Etika Berpakaian Syari Bagi Muslimah

 Bagaimana Pakaian Muslimah yang Sesuai Ketentuan Islam


Fenomena Penggunaan Pakaian Muslimah semakin tinggi, hal ini mengindikasikan kesadaran akan busana syari semakin tinggi terutama di Indonesia apakah hal ini merupakan kesadaran akan agama atau hanya tren busana belaka ? pada zaman jahiliah, wanita berpakaian terbuka memperlihatkan dada, leher mereka kelihatan, ubun ubun kepalanya pun kelihatan bahkan sampai lubang telinganya terlihat sangat jelas.

Pada era kekinian banyak Perempuan Muslimah yang memiliki kecenderungan mengikuti Trend yang terkesan keluar dari Nilai nilai ajaran islam, sehingga banyak menunjukan pakaian yang tertutup tapi hakikatnya telanjang, berpakaian tapi mengundang syahwat, berpakaian tapi auratnya masih terlihat, hal ini merupakan keresahan keresahan dalam kalangan Muslimah, menunjukan pentingnya berpakaian yang sesuai dengan Moral Islam dengan memandang seni sekaligus Etika dalam Berpakaian Bagi seorang Muslimah.

Tujuan utama dari berpakaian Syari adalah melindungi harga diri dan kehormatan wanita muslimah, dalam berbusana Muslimah seorang wanita mencerminkan nilai yang ada pada dirinya. Trend yang berkembang dari barat mempengaruhi trend busana Muslimah yang cenderung Modern namun mengesampingkan Nilai nilai Islam yang seharusnya, Sebagai Contoh penggunaan kerudung yang tidak menutupi dada agar terlihat simple dan minimalis.

Kewajiban menutup aurat telah ada sejak zaman Nabi Adam AS. yang tercantum didalam Al Quran ketika Nabi Adam AS. melanggar Perintah dari Allah SWT dengan memakan buah yang diperintahkan untuk dijauhiNya. 

Al-A'raf 7:22

فَدَلَّىٰهُمَا بِغُرُورٍۚ فَلَمَّا ذَاقَا ٱلشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْءَٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ ٱلْجَنَّةِۖ وَنَادَىٰهُمَا رَبُّهُمَآ أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَن تِلْكُمَا ٱلشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَآ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِينٌ 

“Dia (setan) membujuk mereka dengan tipu daya. Ketika mereka mencicipi (buah) pohon itu, tampaklah oleh mereka auratnya, maka mulailah mereka menutupinya dengan daun-daun surga. Tuhan menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

Sa'id ibnu Abu Arubah meriwayatkan dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Ubay ibnu Ka'b r.a. yang mengatakan bahwa Adam adalah seorang lelaki yang sangat tinggi —seakan-akan tingginya itu seperti pohon kurma yang tertinggi— dan rambutnya lebat. Ketika ia melakukan kesalahan tersebut, pada saat itu juga auratnya kelihatan (menjadi telanjang), padahal sebelum itu Adam belum pernah melihat auratnya sendiri. Maka ia lari ke dalam kebun surga dan salah satu pohon surga bergantung pada kepalanya. Maka Adam berkata kepada pohon itu, "Lepaskanlah saya." Tetapi pohon itu berkata, "Sesungguhnya saya tidak akan melepaskanmu." Kemudian Tuhan menyerunya, "Hai Adam, apakah engkau lari dari-Ku?" Adam menjawab, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku merasa malu kepada Engkau."

Dalam ayat ini Nabi Adam bersama Istrinya merasa malu dan berlarian mencari cara untuk menutup auratnya agar tertutupi, tidak terlihat transparan ataupun mini, kesadaran ini muncul dengan rasa malu terhadap menampakan aurat.

Ada beberapa aturan syar’i pakaian muslimah yaitu; tidak boleh tipis dan tidak transparan, kecuali ketika di depan suami. Dasar dari syarat ini adalah hadits yang diriwayatkan Aisyah bahwa saudara perempuannya, Asma’ binti Abu Bakar datang kepada Rasulullah memakai pakaian menerawang, Rasulullah lantas berpaling darinya dan berkata; “Wahai Asma’, jika seorang wanita telah memasuki masa haid maka tidak boleh terlihat darinya, kecuali ini dan ini.” Beliau mengisyaratkan pada wajah dan kedua telapak tangan.  Sanad hadits ini terdapat Sa’id bin Basyir, dan dia termasuk rawi yang diperselisihkan. Abu Dawud berkata setelahnya, “ini adalah hadits mursal (tidak bersambung sanadnya ) karena Khalid bin Duraik tidak bertemu dengan Aisyah”. 

Berdasarkan kutipan hadits di atas jelas bahwa Rasulullah Telah menetapkan batas aurat bagi wanita yang sudah baligh, yaitu seluruh tubuhnya, kecuali yang boleh terlihat yaitu wajah dan kedua telapak  tangan.  Maka,  ketika  seseorang  berjilbab  tetapi  masih menampakkan  apa  yang  dikecualikan  maka  cara  berjilbab  yang demikian adalah kurang tepat. Pakaian ini menampakkan kulit, tidak juga pakaian sangat ketat  sehingga  menampakkan  lekuk-lekuk  badan.  Pakaian  yang transparan dan ketat, pasti akan mengundang bukan saja perhatian, tetapi bahkan rangsangan

Rasulullah Bersabda “Dua kelompok dari penghuni neraka yang merupakan umatku, belum saya lihat keduanya. Wanita-wanita yang berbusana (tetapi) telanjang serta berlenggak lenggok dan di atas kepala mereka (sesuatu) seperti punuk- punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak juga menghirup aromanya. Dan (yang kedua adalah)lelaki-lelaki yang memiliki cemeti-cemeti seperti ekor sapi. Dengannya mereka menyiksa hamba-hamba Allah” (HR.Muslim melalui Abu Hurairah). 

Berbusana tapi telanjang, dapat dipahami sebagai memakai pakaian tembus pandang, atau memakai pakaian yang demikian ketat, sehingga tampak dengan jelas lekuk-lekuk badannya. Sedang berlenggak-lenggok dan melenggang lenggokkan dalam arti gerak geriknya berlenggak-lenggok antara lain dengan menari atau dalam arti jiwanya miring tidak lurus atau dan memiringkan pula hati atau melenggak-lenggokkan pula badan orang lain. Adapun yang dimaksud dengan punuk-punuk unta adalah sanggul-sanggul mereka yang dibuat sedemikian rupa sehingga menonjol ke atas bagaikan punuk unta.

Dalam Jurnal yang ditulis oleh Bahrun Ali Murtopo, setidaknya ada Tiga hal yang menjadi ketentuan Busana Muslimah, yaitu :

  1. Tidak boleh memakai pakaian ketat yang mengundang rangsangan.

  2. Tidak memakainya dengan maksud ingin terkenal. Dilarang memakai pakaian yang sangat mahal dan istimewa dengan maksud takabur dan berbangga diri. Atau memakai pakaian lusuh untuk menarik perhatian orang dan supaya disebut tawadhu.

  3. Tidak boleh memakai pakaian bergambar sesuatu yang bernyawa dan bergambar salib.

    

    Semoga kita senantiasa Istiqamah dalam mejalankan segala perintahnya dan berada dalam lindunganNya. wallahu a'lam bishowab ...


Komentar